Pages

Tampilkan postingan dengan label Kecintaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kecintaan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Januari 2015

Ingin Mimpi Bertemu Nabi

Siang itu, dengan wajah muram, seorang murid bersimpuh di hadapan syaikhnya. Syaikh dengan suara wibawanya bertanya, "Apa gerangan yang merisaukanmu?"
"Wahai Syaikh, sudah lama saya ingin melihat wajah Rasulullah walau hanya lewat mimpi. Namun, sampai sekarang keinginan itu belum juga terkabul," jelas si murid.
"Ooo... Rupanya itu yang kau inginkan. Tunggu sebentar..." Setelah diam beberapa saat, berkatalah Syaikh, "Nanti malam datanglah engkau kemari. Aku mengundangmu makan malam."
Sang murid mengangguk kemudian pulang ke rumahnya. Setelah tiba saatnya, pergilah dia ke rumah Syaikh untuk memenuhi undangannya. Dia merasa heran melihat syaikhnya hanya menghidangkan ikan asin.
"Makan, makanlah semua ikan itu, jangan sisakan sedikit pun!" kata Syaikh kepada muridnya.
Karena tergolong murid taat, dia habiskan seluruh ikan asin yang disuguhkan. Selesai makan, dia merasa kehausan. Dia segera meraih segelas air dingin di hadapannya.
"Letakkan kembali gelas itu!" perintah Syaikh. "Kau tidak boleh minum air itu hingga esok pagi, dan malam ini kau tidur di rumahku!"
Dengan penuh rasa heran, diturutinya perintah Syaikhnya. Malam itu dia tidak bisa tidur. Lehernya serasa tercekik karena kehausan. Dia membolak-balikkan badannya hingga akhirnya tertidur karena kelelahan.
Apa yang terjadi?
Malam itu dia bermimpi minum air sejuk dari sungai, mata air, dan sumur. Mimpi itu sangat nyata. Seakan-akan benar terjadi padanya.
Paginya ketika bangun, dia langsung menghadap Syaikh. "Wahai Guru, bukannya melihat Rasulullah, saya malah bermimpi minum air."
Tersenyumlah Syaikh mendengar jawaban muridnya. Dengan bijaksana beliau berkata, "Begitulah, makan ikan asin membuatmu sangat kehausan sehingga kau hanya memimpikan air sepanjang malam. Jika kau merasakan kehausan semacam itu akan Rasulullah maka kau akan melihat ketampanannya."
Terisaklah si murid. Dia sadar betapa cintanya kepada Rasulullah masih sebatas kata. Kerinduan sebatas pengakuan.

Selasa, 06 Januari 2015

Perangko

Beberapa tahun silam, Almarhum K.H. Ali Maksum, pengasuh Pesantren Krapyak, Yogyakarta, bercerita.

Dahulu di Tanah Jawa ada seorang pemuda mendapatkan surat dari kekasihnya. Sebelum surat itu dibuka, perangkonya dilepas, lalu dia telan. Dia pun segera membalas surat itu dan menyatakan bahwa perangkonya telah dia telan. Dia menelannya karena yakin bahwa waktu menempelkan perangko itu, pasti memakai ludah kekasihnya. Jadi, hitung-hitung menelan ludah kekasihnya walaupun sudah kering.

Tak lama berselang, dia dapat surat balasan. Kekasihnya menyatakan terima kasih atas kemurnian cintanya. Namun maaf, katanya, yang menempelkan perangko dahulu bukan dia sendiri, melainkan tukang becak sebelah rumah yang dia suruh untuk mengeposkan. Langsung saja pemuda itu nyengir kecut.

"Itulah ekspresi orang lagi mabuk cinta," kata Pak Kiai menutup ceritanya.

Mana Buktinya?

Alkisah, pada suatu hari di Negeri Arab, ada seorang janda miskin yang mempunyai anak. Karena anaknya menangis kelaparan, janda itu terpaksa harus meninggalkan rumah untuk berkelana mencari uang. Di depan sebuah masjid, dia bertemu seorang muslim dan meminta bantuannya.

“Anakku yatim dan kelaparan, aku minta pertolonganmu,” kata janda itu mengiba.

“Mana buktinya?” tanya lelaki muslim itu.

Janda itu tidak dapat membuktikan ucapannya karena dia sendiri adalah orang asing di tempat itu. Akhirnya, lelaki itu tidak menolongnya.

Setelah itu, janda miskin itu bertemu dengan seorang Majusi. Dia pun meminta bantuannya. Orang Majusi itu mengajak ke rumahnya, memuliakannya, dan memberinya uang dan pakaian.

Pada malam harinya, lelaki muslim yang menolak menolong itu bermimpi berjumpa Rasulullah Saw.. Semua orang mendatangi Nabi dan beliau menyambut mereka dengan baik. Ketika tiba giliran lelaki itu menghadap Rasulullah, beliau mengusirnya dan menyuruhnya pergi.

Lelaki itu berteriak, “Ya Rasulullah, aku ini umatmu yang mencintaimu juga.”

Rasulullah bertanya, “Mana buktinya?”

Lelaki itu tersadar. Rasulullah Saw. menyindirnya karena dia telah meminta bukti saat dimintai pertolongan. Dia menangis, Rasulullah lalu menunjukkannya sebuah taman indah dan hunian megah di surga.

“Lihat ini.” Tutur Rasulullah Saw. “Seharusnya semua ini kuberikan untukmu. Namun, karena kau tidak menolong janda dan anak yatim itu, kuberikan semua ini kepada seorang Majusi.”

Pagi harinya lelaki itu terbangun. Dia mencari janda miskin itu. Ternyata dia menemukannya sedang berada di rumah seorang Majusi.

“Ikutlah kau bersamaku.” Pinta lelaki itu kepada si janda.

Namun, orang Majusi tidak mau menyerahkannya.

“Aku akan beri kau ribuan Dinar asal kau mau menyerahkannya.” Pinta si lelaki muslim.

Orang Majusi tetap tidak mau.

Lelaki itu akhirnya jengkel dan berkata, “Janda ini orang Islam. Seharusnya yang menolongnya sesama muslim juga!”


Orang Majusi itu lalu bercerita, “Tadi malam aku bermimpi bertemu Rasulullah. Dia mengatakan akan memberikan kepadaku surga yang semula akan diberikan kepadamu. Ketahuilah, pagi ini ketika aku terbangun, aku langsung masuk Islam dan menjadi pengikutnya karena aku telah menunjukkan bukti bahwa aku adalah salah seorang pecintanya.”

Engkau Bersama Orang yang Kaucintai

Seorang laki-laki Arab dusun, datang menemui Nabi Saw. dan bertanya,

“Kapan kiamat itu?”

Mendapatkan pertanyaan itu, Rasulullah balik bertanya,

“Apa yang telah engkau persiapkan untuk itu?”

Dia menjawab,

“Demi Allah, saya tidak mempersiapkan amal yang banyak, baik berupa salat atau puasa. Hanya saja saya mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Nabi Saw. bersabda,

“Engkau akan bersama orang yang kaucintai.” Kata Anas bin Malik, “Aku belum pernah melihat kaum Muslim berbahagia setelah masuk Islam karena sesuatu seperti bahagianya mereka ketika mendengar sabda Nabi itu,”
(HR Al-Bukhari).

Keledai

Suatu ketika, Nabi Isa a.s. berdakwah di sebuah kota kecil. Orang-orang meminta beliau untuk menunjukkan mukjizatnya.

“Mukjizat apa yang kalian inginkan?” tanya Nabi.

Mereka menjawab, “Hidupkan orang yang sudah mati.”

Mereka pun pergi ke makam kota dan berhenti di depan sebuah kuburan. Sang Nabi pun berdoa kepada Tuhan agar orang yang sudah mati itu dihidupkan kembali.

Orang mati tersebut bangkit dari kuburnya, melihat-lihat sekelilingnya, dan berteriak, “Keledaiku, mana keledaiku?”

Semua yang hadir menjadi heran.

Lalu Nabi Isa menjelaskan, dahulu dia adalah orang miskin. Kekayaan yang sangat dia hargai pada waktu itu adalah keledainya. Semasa hidupnya dia disibukkan dengan keledai itu.

Nabi Isa berpesan, “Apa pun yang paling kau perhatikan akan menentukan apa yang akan terjadi padamu saat kebangkitan. Di akhirat, kalian akan bersama dengan apa dan siapa pun yang kalian cintai.”

Sabtu, 03 Januari 2015

Pulang

Oleh: Miftah Fauzi Rakhmat


Udara dingin, tapi itu biasa. Matahari bersinar secukupnya dan awan seputih kapas itu bergantian menutupinya. Yang berbeda adalah keheningan yang luar biasa. Terlalu lama, lebih dari setengah jam lamanya. Tak ada seorang pun berbicara. Bahkan tak ada gumam doa. Semua menunggu apa yang terjadi di bawah sana.

Aku tak berani melangkahkan kaki lebih jauh. Di hadapanku berkumpul keluarga yang berduka. Momen seperti ini adalah saat yang harus dihormati. Tidak boleh asal bicara. Terlarang sembarang berkata. Peristiwa duka cita, kembalinya seorang hamba pada Tuhannya, adalah saat-saat istimewa, ketika seluruh raga mematung di hadapan kebesaranNya, dan seluruh jiwa merebah pasrah pada garis ketentuanNya.

Setiap menghadiri pemakaman, aku dan yang hadir selalu diingatkan bahwa giliran satu di antara kami berikutnya. Malakal maut akan mengepakkan sayapnya dan menjemput seorang dari kami. Ajaib, biasanya aku merasa, giliran orang lainlah berikutnya, bukan aku. Setiap mengantar jenazah itu, aku selalu mengira, orang lain yang lebih dulu dijemput, bukan aku. Orang lain yang kuantarkan. Bukan mereka yang mengantarku. Kecuali sekarang ini.

Melihat bagaimana jasad itu diperlakukan, tiba-tiba muncul rasa iri dalam diriku. Haji Abdul Ridha menyebutnya ‘ghibthah’. Iri yang baik. Iri karena rasa hormat. Seperti iri pada orang-orang yang bisa menghafal kitab suci dan kita ingin seperti mereka. Aku tahu iri bukan kata yang tepat. Tapi aku tak tahu kata lainnya.

Aku dengar keluarga memperlakukan almarhumah begitu terhormat. Setelah dimandikan dengan campuran kecil dari air kapur dan bidara, mereka mengkafani jenazah itu dengan kain seribu nama. Seribu nama Tuhan. Lalu doa terpanjat, tiada henti. Alangkah dihormatinya. Alangkah indahnya. Hari apalagi yang paling penting bagi manusia, kecuali hari terakhirnya.

Aku tak mengenal almarhumah. Begitu pula sepertinya Haji Abdul Ridha, guruku. Selain membina madrasah, ia juga bertugas atas satu kompleks pemakaman di depan halaman pusara seorang imam besar dalam Islam, Sayyidina Husain bin Ali radhiyallahu ’anhu, cucunda kinasih baginda Nabi Muhammad Saw. Imam Husain, begitu penduduk kota menyebutnya, gugur tahun 61 Hijriah ketika berjuang menyelamatkan agama yang sejati. Sejak itu, pusaranya menjadi tempat ziarah. Dan sebuah kota tumbuh di sekitarnya. Ada beberapa kompleks pemakaman di sekitar pusara Imam Husain itu. Dan Haji Abdul Ridha diamanati mengurus satu diantaranya. Orang antri, bahkan berebut mendaftarkan namanya untuk dapat dimakamkan di tempat itu. Aku pernah melihatnya sendiri. Tua, muda, bahkan anak yang masih belia, ingin menuliskan namanya. Tentu giliran diatur sang malakal maut, dan hanya dia dan Tuhan yang tahu kelak dijemput di mana, dimakamkan di mana. Tapi tercatat sebagai yang meminta saja, sudah jadi kebahagiaan tersendiri sepertinya.

Aku ikut Haji Abdul Ridha. Usai jenazah dikafani, ia dibawa ke halaman makam cucu Nabi itu. Di sana, menghadap kiblat, ia dishalatkan. Guruku pula yang jadi imamnya. Dan doa-doa diantarkan tiada henti. Tahlil, shalawat nabi, ziarah suci, semua mengalun menemani. Barulah setelah itu, jenazah diarak ke pemakaman. Sebuah lubang sudah disiapkan. Aku turut serta mengangkatnya. Konon, dapat banyak pahala. Aku tak terlalu peduli. Rasanya ingin berkhidmat, pada orang yang hendak kembali ke kampung akhirat.

Sebelum memasuki liang lahat, ia berhenti tiga kali. Diturunkan di pintu masuk pemakaman. Lalu doa kembali dipanjatkan. Lalu diangkat, dan diturunkan lagi, kira-kira pertengahan. Lagi-lagi, seluruh doa itu. Tak sulit menaikturunkan keranda kayu persegi itu, karena kompleks pemakaman tak lebih dari sebuah halaman yang sangat besar. Permukaannya rata. Tak ada nisan mengemuka. Hanya sebaris nama yang tertera, di lantai yang diinjak para peziarah itu.

Jenazah diturunkan lagi. Kali ini, persis di bibir lahat pekuburan. Karena perempuan, ia ditidurkan terlebih dahulu sejajar dengan makam. Membentuk dua garis lurus. Bila laki-laki, ia akan dibaringkan di arah kaki makam, dan diturunkan dari arah itu.

Keluarga sudah ada di dasar makam. Tanah padang pasir tak sulit digali. Butiran debu coklat keemasan lembut terlihat. Tanah itu tak keras, tak juga lentur. Lembut. Indah sekali untuk mendekap jasad itu.

Jenazah sudah dibaringkan oleh keluarga. Kemudian Haji Abdul Ridha turun, dan yang lain naik ke atas. Dan, dimulailah hening itu. Kini hampir setengah jam lamanya. Tak ada yang berani mempertanyakan. Kami semua berdiri di atas makam, dan Haji Abdul Ridha masih di dalamnya. Keluarga terdekat, yang melihat jelas ke dalam, tiada yang berbuat apa pun. Aku pun terdiam. Hening yang mengusik penasaran, dengan ketenangan yang menentramkan.

Akhirnya, Haji Abdul Ridha berdiri. Butir demi butir debu menutupi jenazah itu. Orang membantunya, tapi Haji mengangkat tangannya, memberi isyarat bahwa ia melakukannya seorang diri. Semua mematung sambil berdoa. Hingga akhir dan usai seluruh pemakaman, Haji tertegun dalam doa, lalu menangis teramat hebatnya. Tak ada pula yang berani bertanya kepadanya. Mata Haji terlihat sembab, kemudia terdengar ia berkata, “Mana anak ibu ini? Yang mana putranya? Bawa... Bawa ia padaku...”, ia terlihat berusaha mengatur nafas, dan mengendalikan kata yang keluar dari lisannya. Belum pernah aku melihat Haji seperti itu. Serius, dalam, seperti menyimpan sesuatu yang amat berat, tapi pada saat yang sama bercahaya.

Orang-orang menyarankan agar Haji beristirahat. “Tidak.” Katanya tegas kali ini. “Aku harus bertanya pada anaknya...”. Seorang pemuda kemudian dibawa ke hadapan Haji. Kepadanya, Haji bertanya,

“Ada apa antara ibumu dan Al-Husain?”

“Ada apakah gerangan, Haji?”

“Apakah ia pelantun cerita Al-Husain?”

“Bukan.”

“Apakah ia penyelenggara majelis untuk Al-Husain?”

“Bukan.”

“Apakah ia punya tempat singgah untuk para peziarah Al-Husain?”

“Tidak.”

“Lalu, apa? Mustahil... Pasti ia melakukan sesuatu untuk Al-Husain?”

“Ada, Haji. Dan kami sangat mengenalnya. Ada dua hal. Yang pertama, sejak kami kecil hingga sekarang, hingga akhir hayatnya. Tidaklah Ibuku mengawali harinya, kecuali di pagi hari ia berkata, ‘Ya Husain Ya Husain’. Tidaklah ia memasuki petangnya kecuali ia berkata, ‘Ya Husain Ya Husain’.

Dan kedua, sejak kecil kami, kami hidup sederhana. Ibu menafkahi kami. Kami miskin. Tapi kami punya kebun kecil. Kami tanami mentimun, tomat, dan sebagainya. Hasilnya kami gunakan menopang hidup kami. Enam hari dalam seminggu, kami makan hasil tanam kami. Kecuali hari yang ketujuh. Ibu tidak pernah mengambil hasil hari itu. Kami tidak pernah memakannya. Kami tidak makan hari itu, dan Ibu akan berkata, “Hasil hari ini, mari kita bagikan pada orang banyak. Dan kita antarkan pahalanya untuk Al-Husain.” Begitu, Haji. Hingga datang hari ini.”

Haji kembali menangis, memegang tangan anak muda itu dan berkata, “Tahukah engkau, ketika aku turun untuk mendoakan ibumu, dan kubuka sedikit kafannya, untuk kutaburkan debu tanah ini, tiba-tiba seberkas sinar berkelebat... tanganku mendadak berat, dan kudengar suara berkata, “Haji Abdul Ridha, perempuan ini dalam jamuanku. Ia adalah tamuku.”

Dan keheningan itu kini lebih mencekam. Udara dingin berubah hangat. Tapi aku menggigil gemetaran.

Aku merasa sendirian.

Aku merasa kesepian.



*Dikutip dari Al-Tanwir, Buletin Dakwah Mesjid Al-Munawwarah – Yayasan Muthahhari. Nomor: 323, Edisi: 3 November 2014 / 10 Muharram 1436 H.

Rabu, 06 Juli 2011

TERIK SANG SURYA

terik sang surya membakar padang pasir karbala'
sahara kini berubah jadi karbun wa bala'
inilah putra ali buah hati fatimah putra nabi yang mulia disiksa dan dihina
terbakarnya hati, terbakarnya hati derita terobati
zainab pun menangisi husain yang disakiti
darah suci syuhada' yang mewarnai karbala'
demi menjaga islam husain rela berkorban
syahid jadi harapan, merindu jumpa Tuhan

Allah, allahu akbar isyfa' lana ya haidar
sambut panggilan husain, labbaika yabnal kautsar

derai air mata putri nabi tak tertahankan
menatap paras husain diarak bagai hewan
kehormatan nabi yang kini telah dihinakan
tanpa belas kasihan mereka direndahkan
sedih hati nabi, sedih hati nabi melihat putri ali
dirantai dan diikat serta dipertontonkan

Allah, allahu akbar isyfa' lana ya haidar
sambut panggilan husain, labbaika yabnal kautsar

sumpah demi ibu, sumpah demi ibu, sumpah demi ayahku
darahkan kutumpahkan, nyawapun kupersembahkan, demi husain tersayang

Allah, allahu akbar isyfa' lana ya haidar
sambut panggilan husain, labbaika yabnal kautsar

SALAM BAGI HUSEIN

demi ayah dan ibuku, aku bersumpah padamu
semua jiwa kuserahkan, sebagai korban bagimu
oh huseinku oh imamku

sahidmu menyakitiku, perih hati tak menentu
tanpamu duhai huseinku, kemana jalan ku tuju

berat kian kumelangkah,mendaki dosa sejarah
wahai darah kutumpahlah, tuk hibur hati fatimah
oh huseinku oh imamku...

terkutuklah kau oh dunia, janganlah engkau menggoda
husein mencari pembela, kukan datang menyambutnya

Tuhanku tuntunlah aku untuk mencinta huseinmu
jangan kau biarkan aku, abaikan putra nabimu
oh huseinku oh imamku

sahidmu menyakitiku, perih hati tak menentu
tanpamu duhai huseinku, kemana jalan ku tuju

huseinku engkau huseinku, syafaatmu harapanku
huseinmu zahro huseinmu, junjungankun dan imamku
oh huseinku oh imamku...

MEMUTIH MATA YA'QUB SANG NABI

memutih mata ya'qub sang nabi
rindukan putra pulang kembali
tangis zainal abidina ali
muara mata air surgawi

kau dengar panggilan ayahmu
masih adakah penolongku
bergetar hati menggigil tubuhmu
bertumpuh tongkat kau sambut ayahmu

dalam diammu kau ingat Allah
saat bicara engkau bertaqwa
semua perbuatanmu ibadah
engkaulah imam kekasih Allah

memutih mata ya'qub sang nabi
rindukan putra pulang kembali
tangis zainal abidina ali
muara mata air surgawi

duhai imanku sanksi karbala
sebagai tawanan engkau merdeka
tegas indah kau bertutur kata
runtuhkan hujjah angkara murka

salam bagimu zainal abidin
engkaulah imam para muttaqin
kekasih Allah rabbul 'alamin
syafaati kami di yaumiddin

salam bagimu zainal abidin
engkaulah imam para muttaqin
kekasih Allah rabbul 'alamin
syafaati kami di yaumiddin

memutih mata ya'qub sang nabi
rindukan putra pulang kembali
tangis zainal abidina ali
muara mata air surgawi

Doa Ziarah pada hari Maulid Nabi saw

Doa ziarah ini dikenal dengan “ziarah Nabi saw minal bu’di”, ziarah Nabi saw dari kejauhan yaitu dari selain kota Madinah Al-Munawwarah. Doa ziarah ini termasuk amalan yang utama dibaca dan diamalkan di malam atau hari maulid Nabi saw.

Bismillahir Rahmânir Rahîm
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammadin wa âli Muhammad

Asyahadu an lâ ilâha illallâh, wahdahû lâ syarîkalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhû wa Rasûluh, wa annahu sayyidul awwalîna wal akhirîn, wa annahu sayyidul anbiyâi wal mursalîn, Allâhumma shalli ‘alayhi wa ‘alâ ahli baytihil aimmatith thayyibîn.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya

Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya, Muhammad adalah Sayyidul awwalin wal-akhirin, penghulu para nabi dan rasul. Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan Ahlul baytnya para Imam yang baik.

Assalamu’alayka yâ Rasûlallâh
Assalamu’alayka yâ Khalîlallâh
Assalamu’alayka yâ Nabiyallâh
Assalamu’alayka yâ Shafiyyallâh
Assalamu’alayka yâ Rahmatallâh
Assalamu’alayka yâ Khiyaratallâh

Salam atasmu, ya Rasulallah
Salam atasmu, duhai nabi Allah
Salam atasmu, duhai pilihan Allah
Salam atasmu, duhai rahmat Allah
Salam atasmu, duhai pilihan Allah

Assalamu’alayka yâ Habîballâh
Assalamu’alayka yâ Najîballâh
Assalamu’alayka yâ Khâtaman nabiyyîn
Assalamu’alayka yâ Sayyidal mursalîn

Salam atasmu, duhai kekasih Allah
Salam atasmu, ya Najiballah
Salam atasmu, wahai penutup para nabi
Salam atasmu, wahai penghulu para rasul

Assalamu’alayka yâ Qâiman bil qisthi
Assalamu’alayka yâ Fâtihal khayr
Assalamu’alayka yâ Ma’dinal wahyi wat tanzîl
Assalamu’alayka ayyuhals Sirâjul munîr

Salam atasmu, wahai yang menegakkan keadilan
Salam atasmu, wahai pembuka segala kebaikan
Salam atasmu, ya ma’dinal wahyi wal-tanzil
Salam atasmu, wahai yang menyampaikan risalah Allah
Salam atasmu, wahai pelita yang menyinari

Assalamu’alayka yâ Mubasysyir
Assalamu’alayka yâ Nadzîr
Assalamu’alayka yâ Mundzir
Assalamu’alayka yâ Nûrallâhil ladzî yastadhâu bih

Salam atasmu, wahai pembawa berita bahagia
Salam atasmu, wahai pembawa peringatan
Salam atasmu, wahai yang memberi peringatan
Salam atasmu, wahai cahaya Allah yang menerangi

Assalamu’alayka wa ‘alâ Ahli baytikath thayyibînath thâhirîn, Al-Hâdil mahdiyyîn
Assalamu’alayka wa ‘alâ jaddika ‘Abdil Muththalib, wa ‘alâ abîka ‘Abdillâh
Assalamu’alayka wa ‘alâ ummika âminah binti Wahab
Assalamu’alayka wa ‘alâ ‘ammika Hamzah sayyidisy syuhadâ’

Salam atasmu dan Ahlul baytmu yang baik, suci dan penuntun ke jalan petunjuk
Salam atasmu dan kakekmu Abdul Muththalib, dan ayahmu Abdullah
Salam pada ibumu Aminah binti Wahab
Salam pada pamanmu Hamzah penghulu para syuhada’

Assalamu’alayka wa ‘alâ ‘ammika Al-’Abbâs bin ‘Abdil Muththalib
Assalamu’alayka wa ‘alâ ‘ammika wa kafîlika Abî Thâlib
Assalamu’alayka wa ‘alabni ‘ammika Ja’far Ath-Thayyâr fî jinânil Khuld
Assalamu’alayka yâ Muhammad
Assalamu’alayka yâ Ahmad

Salam pada pamanmu Abbas bin Abdil Muththalib
Salam pada pamanmu dan pelindungmu Abu Thalib
Salam pada putera pamanmu Ja’far Ath-Thayyar di surga Khuld
Salam atasmu, wahai Muhammad
Salam atasmu, wahai Ahmad

Assalamu’alayka yâ Hujjatallâhi ‘alal awwalîna wal akhirîn, was sâbiqi ilâ thâ’ati Rabbil ‘âlamîn, wal muhaymina ‘alâ rusulih, wal khâtama li-ambiyâih, wasy syâhida ‘alâ khalqih, wasy syafî’ ilayh, wal makîna ladayh, wal muthâ’a fî malakûtihil Ahmad minal awshâfil Muhammad lisâiril asyrâfil karîmi ‘indar Rabb, wal mukallama min warâil hujubi, al-fâiza bis sibâq, wal fâita ‘anil lihâqi, taslîma ‘ârifin bihaqqik(a), mu’tarifin bit taqshîri fî qiyâmihi biwâjibika ghayri munkirin mantahâ ilayh min fadhlika, mûqinin bil mazîddât min Rabbika, mu’minin bil kitâbil munzali ‘alayka, muhallilin halâlaka, muharrimin harâmaka.

Salam atasmu, wahai hujjah Allah atas orang-orang terdahulu dan kemudian,
yang terdahulu mentaati Tuhan alam semesta
yang memelihara ajaran para rasul-Nya, penutup para nabi-Nya
yang menjadi saksi atas makhluk-Nya
yang memberi syafaat kepada makhluk-Nya
yang teguh di hadapan makhluk-Nya
yang ditaati di alam malakut-Nya, yang dipanggil Ahmad panggilan kehormatan
Muhammad di kalangan orang-orang mulia di sisi Tuhannya
yang diajak bicara dari balik tirai
yang beruntung dengan keterdahuluannya, yang selamat dari ketertinggalan
yang mengucapkan salam kepada yang mengenal hakmu
yang menyelamatkan orang yang mengakui kekurangannya dalam melaksanakan kewajiban-kewajibanmu,
yang tidak mengingkari keutamaanmu, yang meyakini keutamaan-keutamaan dari Tuhanmu, yang beriman kepada kitab yang diturunkan kepadamu,
yang menghalalkan apa yang engkaui halalkan, yang mengharamkan apa yang engkau haramkan.

Asyhadu yâ Rasûlallâh ma’a kulli syâhidin wa atahammaluhâ ‘an kulli jâhidin, annaka qad ballaghta risâlâti Rabbika, wa nashahta li-ummatika, wa jahadta fî sabîli Rabbika, wa shada’ta bi-amrihi, wahtamaltal adzâ fî janbih, wa da’awta ilâ sabîlihi bil hikmati wal maw’izhatil hasanatil jamîlah, wa addaytal haqqal ladzî kâna ‘alayka; wa qad raufta bil mu’minîna wa ghalazhta ‘alal kâfirîn, wa ‘abattallâha mukhlishan hattâ atâkal yaqîn, fa-balaghallâhu bika asyrafa mahallil mukarramîna wa a’lâ manâzilil muqarrabîna wa arfa’a darajâtil mursalîn. Haytsu lâ yalhaquka lâhiqun, walâ yafûquka fâiqun, walâ yasbiquka sâbiqun, walâ yathma’u fî idrâkika thâmi’un.

Ya Rasulallah, aku bersaksi bersama setiap yang bersaksi, dan membela dari setiap penentang, bahwa engkau telah:
menyampaikan seluruh risalah Tuhanmu dan menasehati ummatmu,
berjuang di jalan Tuhan-Mu dan menerangkan perintah-Nya,
mengemban beban yang menyakitkan,
mengajak ke jalan-Nya dengan bijaksana dan nasehat yang baik dan indah,
dan menyampaikan kebenaran yang ada padamu.

engkau menyayangi orang-orang mukmin
dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir,
mengabdi kepada Tuhanmu dengan tulus-ikhlas
sehingga engkau dipanggil ke hadirat-Nya,

Karena itu Allah menganugerahkan kepadamu
kedudukan yang paling mulia dari semua kedudukan orang-orang yang dimuliakan,
tempat yang paling tinggi dari semua tempat para muqarrabin dan derajat yang paling mulia dari derajat para rasul.

Tak aka nad orang yang mampu mendahuluimu
Tak akan ada orang yang dapat melampauimu,
Tak akan puas mengenalmu orang yang ingin mengenalmu

Alhamdulillâhil ladzis tanqadzanâ bika minal halakah, wa hadzânâ bika minadh dhalâlah, wa nawwaranâ bika minazh zhulmati, fa-jazâkallâhu yâ Rasûlallâhi min mab’ûtsin afdhala mâ jâzâ nabiyyan ‘an ummatihi wa rasûlan ‘amman ursila ilayhi.

Segala puji bagi Allah,
yang menyelamatkan kami denganmu dari kebinasaan,
yang memberi kami petunjuk denganmu dari kesesatan,
yang menyinari kami denganmu dari kegelapan
Semoga Allah membalasmu, ya Rasulallah dengan balasan yang paling utama dari apa yang telah dianugerahkan kepada para nabi dan rasul yang diutus kepada ummatnya.

Bi-abî anta wa ummî yâ Rasûlallâh zurtuka ‘ârifan bihaqqika, muqirran bi-fadhlika, mustabshiran bi-dhalâlati man khâlafaka wa khâlafa ahla baytika, ‘ârifan bil-hudal ladzî anta ‘alayh.

Ya Rasulallah, demi ayahku dan ibuku, aku berziarah kepadamu karena aku
mengenal hakmu dan mengakui keutamaanmu,
melihat kesesatan orang yang menyimpang darimu
dan menyimpang dari Ahlul baitmu,
dan mengenal petunjuk yang engkau ajarkan.

Bi-abî anta wa ummî wa nafsî wa ahlî wa malî wa waladî, ana ushallî ‘alayka kamâ shallallâhu ‘alayka wa shallâ ‘alayka malâikatuhu wa anbiyâuhu wa rusuluhu shalâtan mutatâbi’atan wâfiratan mutawâshilatan lanqithâ’a lahâ walâ amadan walâ ajala, shallallâhu ‘alayka wa ‘alâ ahli baytikath thayyibînath thâhirîna kamâ antum ahluhu.

Demi ayahku, ibuku, diriku, keluargaku, hartaku dan anakku,
aku bershalawat kepadamu sebagaimana Allah, para malaikat, para nabi dan para rasul bershalawat kepadamu dengan shalawat yang tak terputus-putus, terus-menerus dan tak berakhir.
Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat kepadamu dan Ahlul baytmu yang baik dan suci sebagaimana yang layak bagimu.

Kemudian mengangkat tangan membaca doa berikut:

Allahummaj’al jawâmi’a shalawâtika, wa nawâmiya barakâtika, wa fawâdhila khayrâtika, wa syarâifa tahiyyâtika wa taslimâtika, wa karâmâtika wa rahmâtika, wa shalawâti malâikatikal muqarrabîna wa anbiyâikal mursalîna wa aimmatikal muntajabîna wa ‘ibâdikash shâlihîna wa ahlis samâwâti wal aradhîna wa man sabbaha laka yâ Rabbal ‘âlamîna minal awwalîna wal âkhirîn(a), ‘ala Muhammadin ‘abdika wa Rasûlika, wa syâhidika wa nabiyyika, wa nadzîrika wa amînika wa makînika, wa najiyyika wa najîbika, wa habîbika wa khalîlika, wa shafiyyika wa shafwatika, wa khâshshatika wa khâlishatika, wa rahmatika wa khayri khiyatika min khalqik(a), nabiyyir rahmah, wa khâzinil maghfirah, wa qâidil khayri wal barakah, wa munqidzil ‘ibâdi minal halakati bi-idznika, wa dâihim ilâ dînikal qayyimi bi-amrika awwalin nabiyyîna mitsâqan wa âkhirihim mab’atsan alladzî ghamatstahu fî bahril fadhîlati wal manzilatil jamîlah, wad-darajatir rafî’ah, wal martabatil khathîrah, wa awda’tahul ashlâbath thâhirah, wa naqaltahu minhâ ilal arhâmil muthahharah, luthfan minka lahu wa tahannunan minka ‘alayhi. Idz wakkalta li-shawnihi wa hirâsatihi wa hifzhihi wa hiyâthatihi min qudratika ‘aynan ‘âshiman, hajabta bihâ ‘anhu madânisal ‘ahri wa ma’âibas sifahi, hattâ rafa’ta bihi nawâzhiral ‘ibâdi, wa ahyayta bihi maytal bilâdi, bi-an kasyafta ‘an nûri wilâdatihi zhulmal astâr, wa albasta haramaka bihi hulalal anwâr.

Ya Allah, curahkan semua (shalawat-Mu dan kesempurnaan keberkahan-Mu, keutamaan kebaikan-Mu, kemuliaan salam dan karamah serta rahmat-Mu; shalawat para malaikat-Mu Al-Muqarrabin dan shalawat para nabi-Mu, shalawat para imam pilihan-Mu dan shalawat hamba-hamba-Mu yang saleh, shalawat seluruh penduduk langit dan bumi, dan shalawat seluruh makhluk-Mu terdahulu dan kemudian yang bertasbih kepada-Mu ya Rabbal ‘alamin)

Sampaikan semua shalawat itu
kepada Muhammad hamba-Mu dan Rasul-Mu, kesaksian-Mu dan Nabi-Mu,
peringatan-Mu, kepercayaan-Mu dan keteguhan-Mu,
rahasia-Mu dan kemuliaan-Mu,
kekasih-Mu dan pilihan-Mu,
kesucian-Mu dan kejernihan-Mu,
kekhususan-Mu dan ketulusan-Mu,
rahmat-Mu dan kebaikan pilihan-Mu dari seluruh makhluk-Mu,
Nabi pembawa rahmat dan pemelihara maghfirah,
penuntun kebaikan dan keberkahan,
penyelamat hamba-hamba-Mu dari kebinasaan dengan izin-Mu,
penyeru mereka ke agama-Mu dengan perintah-Mu,
awal para nabi dalam perjanjian dan akhir para nabi dalam pengangkatan,
diri yang Kau tenggelamkan ke dalam samudra keutamaan,
tempat yang mulia, derajat yang tinggi dan martabat yang agung
diri yang Kau titipkan dalam sulbi yang suci dan Kau pindahkan ke dalam rahim yang disucikan sebagai karunia dan keutamaan dari-Mu.

Ketika Kau wakilkan pemelihannya dengan kekuasaan-Mu, Kau sucikan dia dari noda-noda kemaksiatan dan penyimpangan; sehingga Kau muliakan dia di tengah-tengah kehinaan manusia, dan Kau hidupkan dia di tengah-tengah kematian penduduk negeri agar kau ungkapkan dari cahaya kelahirannya kegelapan semua tirai, dan Kau bungkus apa yang Kau haramkan dengan pakaian-pakaian baru dari cahaya kelahirannya.

Allâhumma fakamâ khashashtahu bisyarafi hâdzihil martabatil karîmah, wa dzuhri hâdzihil manqabatil ‘azhîmah, shalli ‘alayhi kamâ wafâ bi’ahdika, wa ballagha risâlâtika, wa qatala ahlal juhûdi ‘alâ tawhîdika, wa qatha’a rahimal kufri fî ighrâzi dînika, wa labitsa tsawbal balwâ fî mujâhati a’dâika, wa awjabta lahu bikulli adzan massahu, aw kaydin ahssa bihi minal fiatil latî hâwalat qatlahu, fadhîlatan tafûqul fadhâila, wa yamliku bihal jazîla min nawâlika. Wa qad asarral hasrata, wa akhfaz zafrata, wa tajarra’al ghushshah, wa lam yatakhaththa mâ matstsala lahu wahyuka.

Ya Allah, sebagaimana telah Kau istimewakan dia dengan kemuliaan derajat yang agung dan keluhuran pribadi yang mulia,
curahkan shalawat kepadanya sebagaimana dia telah
memenuhi janji-Mu, menyampaikan risalah-Mu,
memerangi mereka yang menentang tauhid-Mu,
memutuskan kasih sayang terhadap orang-orang yang ingkar
dalam menegakkan agama-Mu,
membungkus dirinya dengan pakaian bala’ dalam berjihad
menghadapi musuh-musuh-Mu,
menanggung segala yang menyakitkan
segala tipudaya dari sekelompok manusia yang berusaha membunuhnya,

sebagai keutamaan yang melebihi keutamaan-keutamaan yang lain,
yang dengannya ia memiliki karunia-Mu yang melimpah,
merahasiakan kelelahan dan menyembunyikan semua penderitaan
menyembunyikan semua duka dan derita
belian tidak pernah menyalahi apa yang digariskan dalam wahyu-Mu.

Allâhumma shalli ‘alayhi wa ‘alâ ahli baytihi shalâtan tardhâhâ lahum, wa ballighhum minnâ tahiyyatan katsîratan wa salâmâ(n), wa âtinâ min ladunka fî muwâlâtihim fadhlan wa ihsânan wa rahmatan wa ghufrânan innaka Dzul fadhlil ‘azhîm.

Ya Allah, sampaikan kepadanya dan Ahlul baitnya shalawat yang Kau ridhai bagi mereka; sampaikan salam kami kepada mereka; anugerahkan kepada kami dari sisi-Mu dalam berwilayah kepada mereka keutamaan, kebaikan, rahmat dan pengampunan, sesungguhnya Engkau Pemilik karunia yang agung.

Kemudian lakukan shalat 4 (empat) rakaat dua salam, dengan niat shalat untuk ziarah; setiap rakaat setelah Fatihah membaca salah satu Surat Al-Qur’an yang Anda inginkan. Setelah shalat membaca Tasbih Zahra’ yaitu: Allahu Akbar (34 kali), Alhamdulillah (33 kali), dan Subhanallah (33 kali).

Kemudian membaca doa berikut:

Allâhumma innaka qulta li-Nabiyyika Muhammadin shallallâhu ‘alayhi wa âlihi: “wa law annahum idz zhalamû anfusahum jâûka fastaghfarullâha wastaghfara lahumur Rasûlu la-wajadullâha Tawwâban Rahîmâ.”

Ya Allah, Engkau berfirman kepada Nabi-Mu Muhammad saw: “Kalau sekiranya mereka ketika menzalimi diri mereka datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka dapati Allah Maha Menerima taubat lagi Maha Menyayangi.” (An-Nisa’: 64).

wa lam ahdhur zamâna Rasûlika ‘alayhi wa âlihis salâm. Allâhumma qad zurtuhu râghiban tâiban min say-i ‘amalî, wa mustaghfiran laka min dzunûbî wa muqirran laka bihâ, wa Anta a’lamu bihâ minnî.

Aku tidak hadir disisi Rasul-Mu saw ketika beliau masih hidup. Ya Allah, kini aku datang untuk berziarah kepadanya karena aku mencintainya, ingin bertaubat dari keburukan amalku, aku mengakui dosa-dosaku dan memohon ampun kepada-Mu, Engkau lebih mengetahui dosa-dosaku daripadaku.

Wa mutawajjihan ilayka bi-Nabiyyika Nabiyyir rahmah shalawâtuka ‘alayhi wa âlihi, faj’alnî Allâhumma bi-Muhammadin wa ahli baytihi ‘indaka wajîhan fid dun-yâ wal âkhirah wa minal muqarrabîn.

Aku menghadap kepada-Mu dengan Nabi-Mu, Nabi pembawa rahmat (semoga shalawat-Mu tercurahkan kepadanya dan keluarganya), maka jadikan aku, ya Allah, dengan Muhammad dan Ahlul baitnya, orang yang mulia di sisi-Mu di dunia dan akhirat, dan tergolong kepada orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah.

Yâ Muhammadu yâ Rasûlallâh, bi-abî anta wa ummî, ya Nabiyallâh yâ Sayyida khalqillâh innî atawajjahu bika ilallâhi Rabbika wa rabbî li-yaghfira-lî dzunûbî wa yataqabbala minnî ‘amalî wa yaqdhi-lî hawâijî, fa-kun-lî syafî’an ‘inda Rabbika wa Rabbî, fa-ni’mal mas-ulul mawlâ Rabbî wa ni’masy syafî’ anta yâ Muhammadu ‘alayka wa ‘alâ ahli baytikas salâm.

Ya Muhammad, ya Rasulallah, demi ayahkku dan ibuku. Ya Nabiyallah, wahai penghulu makhluk Allah, sungguh aku menghadap denganmu kepada Allah Tuhanmu dan Tuhanku agar Dia mengampuni dosa-dosaku, menerima amalku dan memenuhi hajat-hajatku. Untuk itu, jadilah engkau pemberi syafaat bagiku di sisi Tuhanmu dan Tuhanku; sebaik-baik tempat memohon dan berlindung adalah Tuhanku dan sebaik-baik pemberi syafaat adalah engkau wahai Muhammad, semoga shalawat tercurahkan kepadamu dan Ahlul baitmu.

Allâhumma wa awjaba-lî minkal maghfirata war rahmata war rizqal wasî’ath thayyiban nâfi’a kamâ awjabta liman atâ Nabiyyaka Muhammadan shalawâtuka ‘alayhi wa âlihi wa huwa hayyun, fa-aqarra lahu bi-dzunûbihi wastaghfara lahu Rasûluka ‘alayhi wa âlihis salâm fa-ghafarta lahu bi-rahmatika yâ Arhamar râhimîn.

Ya Allah, anugerahkan kepadaku dari sisi-Mu maghfirah, rahmat dan rizki yang luas, yang baik dan bermanfaat sebagaimana yang telah Kau anugerahkan kepada orang yang datang kepada Nabi-Mu Muhammad saw ketika beliau hidup, lalu ia mengakui dosa-dosanya dan Rasul-Mu (semoga shalawat tercurahkan kepadanya dan Ahlul baitnya) memohonkan ampunan baginya, lalu Engkau mengampuninya dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.

Allâhumma wa qad ammaltuka wa rajawtuka wa qumtu bayna yadayka wa raghibtu ilayka ‘amman siwâka. Wa qad ammaltu jazîla tsawâbika, wa innî la-muqirrun ghayru munkirin wa tâibun ilayka mimmaqtaraftu, wa ‘âidzun bika fî hâdzal maqâmi mimmâ qaddamtu minal a’mâlil latî taqaddamta ilayya fîhâ wa nahaytanî ‘anhâ wa aw’adta ‘alayhal ‘iqâb.

Ya Allah, sungguh aku mendambakan dan mengharapkan-Mu,
aku berdiri di hadapan-Mu, berpaling dari selain-Mu,
aku berharap limpahan pahala-Mu.
Sungguh kini aku mengakui dosa-dosaku, tidak mengingkarinya,
aku bertaubat kepada-Mu dari perbuatan dosa yang telah kulakukan.
Dengan semua ini aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku yang mengharuskan siksa-Mu.

Wa a’ûdzu bi-karami wajhika an tuqîmanî maqâmal hizyi wadz dzulli yawma tuhtaku fîhil astâr(u), wa tabdu fîhil asrâri wal fadhâih, wa tar’adu fîhil farâishu yawmal hasrati wan nadâmah, yawmal âfikati, yawmat taghâbun, yawmal fashi yawmal jazâ’, yawman kâna miqdâruhu khamsîna alfa sanah, yawman nafkhati, yawma tarjafur râjifatu tatba’uhar râdifah, yawman nasyri yawmal ‘ardhi, yawna yaqûmun nâsu li-rabbil ‘âlamîn, yawma yafirrul mar-u min akhîhi wa ummihi wa abîhi wa shâhibatihi wa banîhi, yawma tasyaqqaqul ardhu wa aknâfus samâ’, yawma ta’ti kullu nafsin tujâdilu ‘an nafsihâ, yawma yuraddûna ilallâhi fa-yunabbiuhum bimâ ‘amilû, yawma lâ yughnî mawlan ‘an mawlan syay-an walâ hum yunsharûna illâ man rahimallâhu innahu Huwal ‘Azîzur Rahîm(u), yawma yuraddûna ilâ ‘âlimil ghaybi wasy syahâdah, yawma yuraddûna ilallâhi Mawlâhumul haqqi, yawma yakhrujûna minal ajdâtsi sirâ’an ka-annahum ilâ nushubin yûfidhûna wa ka-annahum jarâdun muntasyirun muhthi’îna ilad dâ’i ilallâh(i), yawmal wâ’qi’ah, yawma turajjul ardhu rajjâ, yawma takûnus samâu kal-muhli wa takûnul jibâlu kal-’ihni, walâ yus-alu hamîmun hamîmâ, yawmasy syâhidi wal masyhûd, yawma takûnul malâikatu shaffan shaffâ.

Aku berlindung kepada-Mu dengan kemuliaan wajah-Mu dari kedudukan yang hina pada hari diungkapkan segala tirai dan ditampakkan segala rahasia dan aib.
Yaitu, hari kerugian dan penyesalan,
hari yang gersang dan panas, hari kiamat dan perpisahan,
hari pembalasan, hari yang bandingannya 50.000 tahun,
hari ditiupnya sangkakala, hari yang penuh dengan ketakutan,
hari manusia bangkit menuju Tuhan alam semesta;
hari manusia lari dari saudaranya, dari ibunya, dari bapaknya,
dari pasangannya, dan anak-anaknya,
hari bumi dihancurkan dan langit dibinasakan,
hari setiap manusia datang menyesali dirinya,
hari manusia dikembalikan kepada Allah
lalu diberitahukan kepada mereka amal perbuatan mereka,
hari tak ada pelindung dapat memberi perlindungan
dan tak seorang pun mendapat pertolongan kecuali orang yang dikasihi Allah
karena Dialah Yang Maha Mulia dan Maha Pengasih.
hari manusia dikembalikan ke alam ghaib dan alam kesyaksian,
hari manusia dikembalikan kepada Allah Pelindung Yang Benar,
hari mereka keluar bergegas dari alam kubur
seperti mereka lari menuju nasibnya yang baik,
seperti belalang yang bertebaran, lari dengan rasa takut menghadap Malaikat
yang memanggil munuju Allah
hari kiamat,
hari bumi digoncangkan, langit bagaikan nanah mayat,
gunung-gunung hancur berserakan,
hari air yang panas tak terasa panasnya
hari bersaksi dan disaksikan,
hari para malaikat berbaris dan bershaf-shaf

Allâhummarham mawqifî fî dzâlikal yawm bi-mawqifî fî hâdzal yawm, walâ tukhzinî fî dzâlikal mawqifi bimâ janaytu ‘alâ nafsî, waj’al yâ Rabbi fî dzâlikal yawm ma’a awliyâika manthalaqî, wa fî zumrati Muhammadin wa Ahli baytihi ‘alayhimus salâm makhsyarî, waj’al hawdhahu mawridî, wa fil ghurril kirâmi mashdarî, wa a’thinî kitâbî bi-yamînî, hattâ afûza bi-hasanâtî, wa tubayyidha bihi wajhî, wa tuyassira bihi hisâbî, wa turajjiha bihi mîzânî, wa amdhiya ma’al fâizîna min ‘ibâdikash shâlihîna ilâ ridhwânika wa jinânika Ilâhal ‘âlamîn.

Ya Allah, kasihi keadaanku pada hari itu dengan keadaanku hari ini.
Jangan hinakan aku pada hari itu dengan kezalimanku terhadap diriku.
Ya Rabbi, jadikan perjalananku pada hari itu bersama para kekasih-Mu,
dan mahsyarku golongan Muhammad dan ahlul baytnya (sa)
Jadikan telaga Muhammad tempat kembaliku,
cahaya kemuliaannya keberangkatanku
Anugerahkan padaku buku catatanku di tangan kananku
sehingga aku beruntung dengan amal-amal baikku;
Dengannya putihkan wajahku, mudahkan hisabku, lebihkan timbanganku,
Berangkatkan aku bersama orang-orang yang beruntung dari hamba-hamba-Mu yang saleh menuju ridha-Mu dan surga-Mu ya Ilahal ‘alamin.

Allâhumma innî a’ûdzu bika min an tafdhahanî fî dzâlikal yawm bayna yadayil khalâiqa bijarîratî, aw alqal khizya wan nadâmata bi-khathîatî, aw an tuzhhira fîhi sayyiâtî ‘alâ hasanâtî, aw an tunawwiha baynal khalâiqi bismî, yâ Karîmu yâ Karîmu al’afwa al’afwa assatra assatra.

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu
Jangan hinakan aku pada hari itu di hadapan-Mu
dan makhluk-Mu karena rahasiaku,
Jangan pertemukan aku dengan kehinaan dan penyesalan
karena dosa-dosaku,
Jangan tampakkan keburukan-keburukanku di atas kebaikan-kebaikanku,
jangan puji aku dengan namaku di hadapan makhluk-Mu
Ya Karim ya karim, maafkan aku, ampuni aku.

Allâhumma wa a’ûdzu bika min an yakûna fî dzâlikal yawm fî mawqifil asyrâri mawqifî, aw fî maqâmil asyqiyâi maqâmî. Wa idzâ mayyazta bayna khalqika fasuqta kullan bi-a’mâlihim zumaran ilâ manâzilihim, fa-suqnî birahmatika fî ‘ibâdikash shâlihîn, wa fî zumrati awliyâikal muttaqîna ilâ jannâtika yâ Rabbal ‘âlamîn.

Ya Allah, lindungi keadaanku hari itu dari keadaan orang-orang yang buruk,
kedudukanku dari kedudukan orang-orang yang celaka
Jika Kau bedakan di antara makhluk-makhluk-Mu lalu Kau pisahkan mereka menurut amal-amal mereka munuju tempat tinggal mereka,
maka masukkan aku dengan rahmat-Mu ke pada kelompok hamba-hamba-Mu yang saleh dan para kekasih-Mu menuju ke surga-Mu ya Rabbal ‘alamin.

Kemudian ucapkan salam:

Asalâmu’alayka yâ Rasûlallâh, Assalâmu’alayka ayyuhan basyîrun nadzîr, Assalâmu’alayka ayyuhas sirâjul munîr, Assalâmu’alayka ayyuhas safîru baynallâh wa bayna khalqih.

Salam atasmu, ya Rasulallah
Salam atasmu, wahai pembawa berita bahagia dan peringatan
Salam atasmu, wahai pelita yang menerangi
Salam atasmu, wahai duta di hadapan Allah dan makhluk-Nya

Asyhadu yâ Rasûlallâh annaka kunta nûran fil ashlâbisy syâmikhah wal arhâmil muthahharah, lam tunajjiskal jâhiliyyatu bi-anjâsihâ, walam tulbiska min mudlahimmâti tsiyâbihâ. Wa asyhadu yâ Rasûlallâh annî mu’minun bika, wa bil-aimmati min ahli baytika mûqinun, bi-jamî’i mâ atayta bihi râdhin mu’minun. Wa asyhadu annal aimmata min ahli baytika a’lâmul hudâ, wal ‘urwatul wutsqâ, wal hujjatu ‘alâ ahlid dun-yâ.

Ya Rasulallah, aku bersaksi
Engkau adalah cahaya di dalam sulbi yang mulia dan rahim yang disucikan
Engkau tidak pernah ternodai oleh noda jahiliyah,
Tidak pernah tersentuh oleh pakaian kehinaan jahiliyah

Ya Rasulallah, Aku bersaksi bahwa
aku mempercayaimu dan meyakini para Imam dari Ahlul baitmu,
ridha dan percaya terhadap semua risalahmu.
Aku bersaksi bahwa para Imam dari Ahlul baitmu paling mengetahui petunjuk, tali yang kokoh dan hujjah bagi penduduk dunia.

Allâhumma lâ taj’alhu âkhiral ‘ahdi min ziyârati nabiyyika ‘alayhi wa alihis salâm. Wa in tawaffaytanî fa-innî asyhadu fî mamâtî ‘alâ mâ asyhadu ‘alayhi fî hayâtî, annaka Antallâhu lâ ilâha illâ Anta wahdaka lâ syarîka lak(a), wa anna Muhammadan ‘abduka wa rasûluka, wa annal aimmata min ahli baytika awliyâuka wa anshâruka wa hujajuka ‘alâ khalqika, wa khulafâuka fî ‘ibâdika, wa a’lâmuka fî bilâdika, wa khuzzânu ‘ilmika, wa hafazhatu sirrika, wa tarâjimatu wahyika.

Ya Allah, jangan jadikan kesempatan ini kesempatan yang terakhir untuk berziarah kepada Nabi-Mu saw.
Jika Kau matikan aku, aku akan bersaksi dalam kematianku seperti apa yang kupersaksikan dalam hidupku, bahwa:
Engkau adalah Allah, tiada Tuhan selain Engkau Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Mu, Muhammad adalah hamba-Mu dan Rasul-Mu, para Imam dari Ahlul baytnya adalah para kekasih-Mu, pasukan-Mu dan hujjah-Mu terhadap makhluk-Mu, para khalifah-Mu atas hamba-hamba-Mu, orang-orang yang paling alim di seluruh negeri-Mu, khazanah ilmu-Mu, pemelihara rahasia-Mu dan penerjemah wahyu-Mu.

Allâhumma shalli ‘alâ Muhammadin wa âli Muhammad, wa balligh rûha Nabiyyika Muhammadin wa ?lihi fî sâ’atî hâdzihi wa fî kulli sâ’ah tahiyyatan minnî wa salâman, was salâmu ‘alayka yâ Rasûlallâh wa rahmatullâhi wa barakâtuh, la ja’alahullâhu âkhiru taslîmî ‘alayka.

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sampaikan salam dan hormatku kepada ruh Nabi-Mu Muhammad dan keluarganya saat ini dan setiap saat. Ya Rasulallah, semoga salam, rahmat dan keberkahan Allah senantiasa tercurahkan kepadamu. Dan semoga Allah tidak menjadikan salam ini sebagai salamku yang terakhir padamu.
(Kitab Mafatihul Jinan,kunci-kunci surga)

Doa Ziarah Imam Husain

Salam sejahtera bagimu wahai Pewaris Adam pilihan Allah.
Salam sejahtera bagimu wahai Pewaris Nuh Nabi Allah.
Salam sejahtera bagimu wahai Pewaris Ibrahim Khalilullah.
Salam sejahtera bagimu wahai Pewaris Musa Kalimullah.
Salam sejahtera bagimu wahai Pewaris Isa Ruhullah.
Salam sejahtera bagimu wahai Pewaris Muhammad Penghulu utusan Allah.
Salam sejahtera bagimu wahai Pewaris Ali Pimpinan kaum Mukmin dan Penghulu para washi.
Salam sejahtera bagimu wahai Pewaris Hasan al-Radhiy, al-Thahir, al-Radhi, dan al-Mardhi.
Salam sejahtera bagimu wahai al-Shiddiq al-Akbar.
Salam sejahtera bagimu wahai al-Washi, al-Barr, dan al-Taqi.
Salam sejahtera bagimu dan bagi para arwah yang berada di sisimu dan menyertai keberangkatanmu.
Salam sejahtera bagimu dan bagi para malaikat yang mengelilingimu.
Aku bersaksi engkau telah mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyeru kebaikan, mencegah kemungkaran, memerangi kaum pengingkar, dan menyembah Allah hingga titik terakhir.
Salam sejahtera bagimu, semoga rahmat dan karunia Allah tercurah kepadamu.